MUTIARA AL-HIKAM (3)
JALAN MENUJU ALLAH : MENERIMA TAQDIR
" ِﻢَﻤِﻬْﻟﺍ ُﻖِﺑﺍَﻮَﺳ َﻻ ُﻕِﺮْﺨَﺗ َﺭﺍَﻮْﺳَﺃ ِﺭﺍَﺪْﻗَﺄْﻟﺍ "
“Sawaabiqul Himami Laa Takhriqu Aswaaral Aqdaari”
: “ Sekuat apapun cita-cita seseorang, tidak akan mampu menerobos pagar-pagar taqdir Allah”.
Syaikh Ibn ‘Athoillah mengingatkan, bahwa untuk mengenal Allah swt, seorang salik hendaknya menerima taqdir Allah. Di ujung ikhtiar, usaha dan mujahadahnya, harus meyakini adanya ketentuan Allah yang dibingkai dalam qodlo’ dan qadar. Sekuat apapun usaha, ikhtiar atau pun cita-cita seseorang tidak akan mampu melampaui bingkai taqdir tersebut.
Dalam perjalanan Rasulullah SAW, pernah beliau berusaha agar paman beliau tercinta Abu Tholib berkenan masuk Islam, namun sampai akhir hayatnya Allah mentaqdirkan tidak memeluk agama Islam. Peristiwa itu termaktub dalam ayat 56 Surat al-Qashash : innaka laa tahdi man ahbabta, wa lakinnallaha yahdii man yasyaa’, wa Huwa a’lamu bil muhtadiin.” (sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang akan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui akan orang-orang yang diberi petunjuk.”
Allah swt juga menegaskan bahwa “innaa kulla syai’in khalaq-Naa hu bi-qadar” (sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu itu dengan suatu ketentuan/taqdir). (QS. Al-Qamar : 59) Dalam suatu hadis Rasulullah SAW bersabda, kullu syai’in bi-qadarin, hattal ‘ajzi wal kayyis” (bahwa segala sesuatu itu sesuai dengan taqdir, hingga termasuk orang yang lemah/bodoh atau orang yang cerdik).
Menerima taqdir bukan berarti seseorang hanya berpangku tangan saja, namun harus diawali ikhtiar/usaha keras dan bekerja. Taqdir itu kita terima setelah adanya ikhtiar dan mujahadah. Jika seseorang menerima taqdir tanpa diawali usaha yang keras, jelas hal tersebut sebagai suatu sikap yang tidak tepat.
Menerima taqdir itu kita meyakini bahwa semua hasil usaha dan kerja keras kita, pada hakikatnya bukanlah prestasi kita, bukan kita yang menentukan, semua itu dari Allah swt. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Dengan sikap seperti ini, akan menghantarkan seseorang mampu menekan perilaku sombong di saat mendapatkan kesuksesan, sehingga yang muncul sikap kerendahan hati (tawadlu’). Sebaliknya, manakala kita mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan atau berujung pada kegagalan. tentu tidak akan meratapi dan bersedih hati, karena Allah memang belum mentaqdirkannya. Kondisi apapun, kita akhirnya harus tetap bersyukur, bertawakkal, bersabar hingga akhirnya menjadi hamba yang ridlo dan ma’rifat kepada Allah swt.
Ilaahii Anta maqshuudii wa ridlaa-Ka mathluubii a’thi-nii mahabbata-Ka wa ma’rifata-Ka. Wallahu A’lam
(al-Faqiir HM. Jauhar Hatta Hasan)
Komentar
Posting Komentar